Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme Bagi Bangsa Indonesia
Setelah VOC dibubarkan, terjadilah perubahan penting dalam sistem
pemerintahan di tanah Hindia Belanda. Pembaruan sistem pemerintahan ini
terutama dilakukan oleh Daendels. Namun sistem pemerintahan yang baru itu dapat
dilembagakan dan dilaksanakan secara nyata pada zaman pemerintahan Raffles.
Sistem pemerintahan yang baru itu bersifat dualistis, yakni ada pemerintahan
Eropa dan ada pemerintahan pribumi (sekalipun harus tunduk pada penguasa
Eropa). Di samping itu, sebenarnya ada kelompok Timur Asing yang kedudukannya
setara dengan pribumi. Dalam hal ini para pangreh praja direpresentasikan dalam
pemerintahan pribumi. Namun penguasa kolonial sangat menentukan sistem
pergantian kekuasaan pemerintahan pribumi. (Sementara itu) sejak pemerintahan
Daendels, pembaruan di bidang pendidikan di Hindia Belanda (juga) mulai
dilakukan. Awalnya hanya ditujukan untuk kepentingan tertentu dan kalangan
tertentu. Namun sejak Politik Etis bergulir, para bumiputra Hindia Belanda pun
turut mengenyam pendidikan ala Barat. Pada masa selanjutnya, hal ini menjadi
bumerang bagi Belanda karena pendidikan tersebut justru melahirkan elite lokal
yang menaruh perhatian besar pada semangat nasionalisme. (Taufik Abdullah &
A.B. Lapian (ed). Indonesia dalam Arus Sejarah (2012H).
Uraian tersebut menggambarkan bahwa penjajahan Barat memiliki implikasi
terhadap perkembangan kehidupan bangsa Indonesia. Di samping perkembangan
pendidikan persekolahan (pendidikan modern) juga menggerakkan semangat
nasionalisme. Munculnya semangat nasionalisme dan cinta tanah air, sebenarnya
sudah muncul setelah Indonesia ini dijajah dan digerogoti oleh kekuatan
kolonialisme dan imperialisme. Timbullah berbagai bentuk perlawanan dan
pergerakan kebangsaan. Hal ini terjadi karena kondisi sosial ekonomi rakyat
yang semakin memprihatinkan akibat dari penindasan kaum penjajah, kekejaman
kolonialisme dan imperialisme Eropa. Berikut ini kita akan belajar bagaimana
dampak perkembangan kolonialisme dan imperialisme Eropa di Indonesia.
A.
Dampak dalam Bidang
Politik-Pemerintahan dan Ekonomi
1.
Bidang Politik dan Struktur
Pemerintahan
Dalam bidang politik, para penguasa penjajahan Barat terutama Belanda
melakukan kebijakan yang sangat ketat dan cenderung menindas. Pemerintah kolonial
menjalankan politik memecah belah atau devide et impera. Tidak hanya politik
memecah belah, tetapi juga disertai dengan tipu muslihat yang cenderung
menghalalkan segala cara sehingga melanggar norma-norma kemanusiaan. Misalnya
pura-pura mengajak perundingan damai tetapi malah ditangkap (penangkapan
Pangeran Diponegoro), purapura diajak berunding tetapi malah dibunuh
(pembunuhan Sultan Khaerun/ Hairun). Secara politik martabat rakyat Indonesia
jatuh dan menjadi tidak berdaulat. Rakyat Indonesia juga menjadi kelompok
masyarakat kelas tiga setelah kelompok orang-orang Barat (penjajah) dan
kelompok orang-orang timur asing.
Berangkat dari politik memecah belah dan praktik-praktik tipu muslihat
itu, kekuatan kolonial Belanda terus memperluas wilayah kekuasaannya. Penguasa
kolonial juga selalu campur tangan dalam pergantian kekuasaan di lingkungan
kerajaan/pemerintahan pribumi. Penguasa-penguasa pribumi/ lokal dan rakyatnya
kemudian menjadi bawahan penjajajah. Hal ini dapat menimbulkan sikap rendah
diri di kalangan rakyat. Beberapa penguasa pribumi mulai tidak memperhatikan
rakyatnya.
Perlu disadari bahwa masa sebelum penjajahan dan sebelum terjadi
intervensi politik para penguasa kolonial, berkembang sistem kerajaan. Kerajaan
ini berkembang sendiri-sendiri di berbagai daerah. Tetapi seperti telah
disinggung di depan bahwa pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels,
telah dilakukan pembaruan bidang politik dan administrasi pemerintahan.
Daendels telah membagi wilayah kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia/Hindia
Belanda di Jawa dibagi menjadi sembilan prefektur dan terbagi dalam 30
regentschap (kabupaten). Setiap prefektur diangkat seorang pejabat kepala
pemerintahan yang disebut dengan prefek. Seorang pejabat prefek ini diangkat
dari orang Eropa. Kemudian setiap regentschap/ kabupaten dikepalai oleh seorang
regent atau bupati yang berasal dari kaum pribumi. Namun, status bupati sampai
dengan camat (yang disebut priayi) sepenuhnya menjadi pegawai negeri
(binnenland bestuur) baru terwujud setelah diterapkannya sistem Tanam Paksa
pada pertengahan 1850-an).
Setiap bupati ini merupakan pegawai pemerintah yang digaji. Dengan
demikian, para bupati ini telah kehilangan hak jabatan yang diwariskan secara
turun temurun (lihat uraian dalam buku Taufik Abdullah dan A.B. Lapian, 2012).
Setiap prefek diberikan kekuasaan yang besar dan ditugasi untuk memperketat
pengawasan administratif dan keuangan terhadap para penguasa pribumi. Ruang
gerak para penguasa pribumi semakin sempit. Kewibawaan yang berusaha
diciptakannyapun menjadi semu.
Dalam struktur pemerintahan dikenal adanya pemerintahan tertinggi,
semacam pemerintahan pusat. Sebagai penguasa tertinggi adalah gubernur
jenderal. Di tingkat pusat ini juga ada lembaga yang disebut dengan Raad van
Indie, tetapi perannya cenderung sebagai dewan penasihat. Dalam pelaksanaan
pemerintahan juga dikenal adanya departemen-departemen untuk mengatur
pemerintahan secara umum. Beberapa departemen hasil reorganisasi tahun 1866,
antara lain ada Departemen Dalam Negeri; Departemen Pendidikan, Agama, dan
Kerajinan; Departemen Pekerjaan Umum; Departemen Keuangan; Departemen Urusan
Perang; kemudian dibentuk Departemen Kehakiman (1870); Departemen Pertanian
(1904), yang disempurnakan menjadi Departemen Pertanian, Industri dan
Perdagangan (1911).
Sementara itu, dalam pelaksanaan pemerintahan dalam negeri, sangat jelas
adanya dualisme pemerintahan. Ada pemerintahan Eropa (Europees bestuur) dan
pemerintahan pribumi (Inlands bestuur). Di lingkungan pemerintahan Eropa ini,
terdapat pejabat wilayah yang paling tinggi yakni residen. Ia memimpin wilayah
karesidenan. Di seluruh JawaMadura terbagi menjadi 20 karesidenan. Begitu juga
di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau bagian timur juga dibagi
dalam wilayah karesidenan-karesidenan, tetapi jumlahnya relatif kecil.
Di bawah residen ada pejabat asisten residen. Asisten residen ini
mengepalai suatu wilayah bagian dari karesidenan yang dinamakan afdeling. Di
bawah asisten residen masih ada pejabat yang disebut kontrolir (controleur). Ia
memimpin wilayah yang dinamakan controle-afdeling.
Selanjutnya yang terkait dengan pemerintahan pribumi, para pejabatnya
semua dijabat oleh priayi pribumi. Jenjang tertinggi dalam pemerintahan pribumi
adalah seorang regent atau bupati. Ia memimpin sebuah wilayah kabupaten.
Seorang bupati ini dibantu oleh seorang pejabat yakni patih. Satu wilayah
kabupaten umumnya terbagi menjadi beberapa distrik yang dipimpin oleh seorang
wedana. Setiap distrik kemudian terbagi menjadi onderdistrik yang dikepalai
seorang asisten wedana atau sekarang camat. Unit paling bawah kemudian ada
desa-desa.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Raffles di Hindia Belanda, ia
mereformasi pemerintahan pada saat itu. Raffles yang berpandangan liberal mulai
menghapus ikatan feodal dalam masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa yang sudah
terbiasa hidup dalam adat-istiadat dan ikatan feodal yang kuat dipaksa untuk
mengikuti sistem birokrasi baru. Karena itu, dari para penguasa pribumi seperti
raja, bupati, hingga kepala desa harus mengikuti sistem pemerintahan dan
birokrasi yang baru. Dalam hal ini pemerintah pusat dapat langsung berhubungan
dengan rakyat tanpa perantara penguasa lokal. Sebenarnya pekerjaan ini sudah
diawali oleh Daendels, sehingga Raffles tinggal melanjutkan saja. Pembaruan
yang dilakukan Raffles juga menyangkut struktur pemerintahan dan peradilan.
Pada masa pemerintahan Raffles, bupati sebagai penguasa lokal harus
dijauhkan dari otonomi yang menguntungkan diri sendiri. Seorang bupati diangkat
sebagai pegawai pemerintah di bawah seorang residen. W. Daendels memberikan
istilah itu dengan prefek atau landrost. Raffles kemudian membagi Jawa menjadi
16 keresidenan. Tiap keresidenan dikepalai oleh seorang residen dan dibantu
oleh beberapa asisten residen. Pembaruan yang dilakukan Raffles ini bertujuan
untuk melakukan transformasi sistem pemerintahan Jawa, yaitu menggantikan
sistem tradisional Jawa yang bersifat patrimonial menuju sistem pemerintahan
modern yang rasional.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sistem pemerintahan Raffles
diperbaiki kembali. Di samping itu untuk menyatukan seluruh wilayah Hindia
Belanda yang masih berbentuk kerajaan-kerajaan, pemerintah Kolonial Belanda
melakukan politik pasifikasi kewilayahan di Aceh, Sumatera Barat, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil, Maluku dan Papua. Penyatuan seluruh wilayah
Hindia Belanda ini baru berhasil sekitar tahun 1905. Bersatunya Hindia Belanda
ini dikenal dengan Pax Neerlandica masa setelah itu, wilayah Hindia Belanda
telah stabil di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Wilayah inilah setelah
proklamasi menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
2.
Bidang Ekonomi
Pada masa pemerintahan
Daendels, perubahan sistem pemerintahan telah membawa pada perubahan sistem
perekonomian tradisional. Dalam sistem modern, tanah-tanah milik Raja berubah
statusnya menjadi tanah milik pemerintah kolonial. Dalam masa pemerintahan
kolonial, mencari uang dan mengumpulkan kekayaan menjadi tujuan utama. Uang dan
kekayaan mereka kumpulkan untuk membiayai keperluan pemerintahan yang sedang
berlangsung saat itu. Untuk mendapatkan uang pemerintah kolonial memperolehnya
dari penjual hasil bumi dari para petani berupa pajak. Petani pun harus menjual
hasil bumi dengan harga yang telah ditetapkan.
Grote Postweg atau jalan Raya
Pos yang menghubungkan Anyer sampai Panarukan, dibuka pada masa Daendels
memerintah Hindia Belanda. Jalan itu dibangun hampir di seluruh Pulau Jawa
sebagai sarana pertahanan untuk menghadapi Inggris. Jalan yang dibangun itu
menembus sebagian hutan dan gunung untuk menghindari rawa-rawa antara Jakarta
dan Cirebon. Pembangunan jalan itu terkait dengan masalah politik yang sedang
menimpa pemerintah, seperti masalah keuangan, ancaman Inggris, pemberontakan
Banten dan Cirebon, serta banyak musuh-musuh Daendels. Tindakan Daendels ini mendapat
pujian dari menteri penjajahan. Karena dengan pembangunan jalan itu maka akan
mengurangi pengeluaran pemerintahan. Pembangunan jalan sepanjang 1000 km itu
dilakukan dengan kerja rodi. Meskipun dibangun dengan kerja rodi, jalan itu
berguna untuk memakmurkan pedalaman Jawa sebagai konsekuensi yang teratur.
Menurut Daendels, jalan itu membawa keuntungan bagi penduduk setempat dengan
semakin ramainya perdagangan. Meskipun jalan pos ini membawa perkembangan
daerah yang dilaluinya, namun kritik pedas kepada Daendels dilontarkan karena
pembangunan jalan itu telah merenggut ribuan nyawa manusia.
Pada masa Raffles terjadi
perubahan sistem kepemilikan tanah dari tanah raja dan penguasa lokal ke
pemerintah. Ini berarti pemerintah mempunyai kewenangan untuk menyewakan tanah.
Perubahan dari sistem kepemilikan tanah inilah yang menyebabkan pula terjadinya
perubahan hubungan antara raja dan kawulanya, yaitu dari patron-client menjadi
hubungan-hubungan yang bersifat komersial. Adanya penyewaan tanah ini berarti
pemerintah mendapatkan pajak tanah, dan kas pemerintah pun terisi. Dengan
demikian pelaku ekonomi adalah pihak swasta. Sistem ini telah membuka
kemerdekaan ekonomi yang didukung oleh kepastian hukum usaha. Perdagangan bebas
pun mulai dilakukan. Dalam kaitannya dengan ini, bila perdagangan bebas
dilakukan maka kemakmuran rakyat akan tumbuh dengan sendirinya. Sejak itulah
sistem kegiatan ekonomi uang di desa-desa Jawa dan daerah lain di Hindia
Belanda yang telah lama dikenal dengan sistem ekonomi swadaya berubah menjadi
sistem ekonomi komersial.
Setelah pemerintah Raffles
berakhir, diganti dengan pemerintahan Hindia Belanda ekonomi uang terus
berkembang, dan kegiatan perdagangan pun semakin luas. Perkembangan ini
didukung oleh perkembangan di bidang perbankan. Sejak tahun 1828 era perbankan
modern masuk ke Hindia Belanda. Pada masa itu De Javasche Bank, didirikan di
Batavia pada tanggal 24 Januari 1828. Kemudian menyusul berdiri bank-bank
lainnya seperti Nederlands Handels Maatschappij, De Nationale Handels Bank dan
Escompto Bank. Selain itu juga berkembang bank-bank lain yang berasal dari
Inggris, Australia dan Cina. Bahkan juga ada juga bank milik pribumi yaitu Bank
Desa, Lumbung Desa.
Dampak lain dari pemerintahan
kolonial adalah munculnya kota-kota baru yang ditandai dengan adanya jaringan
transportasi berupa jalur-jalur kereta api dari Jakarta ke Bogor, dan kereta
api di Pulau Jawa dan lain sebagainya. Pada tahun 1840, muncul penyelidikan
tentang pembangun jalur kereta api yang menghubungan dari Surabaya lewat Solo
ke Yogyakarta hingga ke Priyangan. Pada September 1895, Jaringan kereta api
Semarang-Cirebon terbangun. Jaringan kereta api juga dibangun di Sumatera.
Perusahaan Zuid Sumatera Staatsramwegen membangun jaringan di Lampung sepanjang
62 km dan Palembang sepanjang 152 km yang telah beroperasi 1917. Di Sumatera
Barat, sejak 1833 telah dibangun kereta api, begitu juga di Aceh. Di samping
itu, jalur transpotasi darat membawa banyak perkembangan dalam bidang
perekonomian.
Munculnya pelabuhan-pelabuhan
membawa pengaruh pada perkembangan perdagangan. Terbentuknya jaringan kereta
api yang terhubung ke pelabuhan–pelabuhan sehingga pelabuhan-pelabuhan di
Hindia Belanda mulai tersambung pula, karena didukung munculnya angkutan kapal
laut. Perkembangan ekonomi juga didukung oleh munculnya kemajuan komunikasi dan
transpotasi. Pada 1746, kantor pos pertama didirikan di Batavia. Hal ini
mengalami kemajuan lagi setelah Daendels membangun jalan pos yang menghubungkan
di wilayah Pulau Jawa. Terhubungnya jaringan kereta api dan jalan pos telah
mempercepat pengiriman surat lewat pos, sehingga informasi semakin berkembang
cepat. Di Sumatera pelayanan pos dilakukan dengan mobil, misalnya di Palembang,
Pantai Timur Sumatera dan Aceh. Pelayanan telegrap dimulai sejak 1855, sehingga
informasi semakin cepat sampai. Sistem ekonomi kapitalis mulai bangkit dengan
ditandai oleh masyarakat Indonesia yang mulai mengenal beberapa jenis tanaman
perkebunan yang menjadi bahan ekspor di pasar dunia.
B.
Dampak dalam Bidang
Sosial-Budaya dan Pendidikan
1.
Bidang Sosial
Budaya
Penjajahan
bangsa Barat di Indonesia secara tegas telah menerapkan kehidupan yang
diskriminatif. Orang-orang Barat memandang bahwa mereka yang berkulit putih
sebagai kelompok yang kelas I, kaum Timur Asing sebagai kelas II, dan kaum
pribumi dipandang sebagai masyarakat kelas III, kelas yang paling rendah. Hal
ini membawa konsekuensi bahwa budayanya juga dipandang paling rendah. Pandangan
ini sengaja untuk menjatuhkan martabat bangsa Indonesia yang memang sedang
terjajah.
Memang bangsa Barat ini ingin memberantas
budaya feodal. Terbukti Belanda berhasil menggeser hak-hak istimewa para
penguasa pribumi. Para penguasa pribumi, telah kehilangan statusnya sebagai
bangsawan yang sangat dihormati oleh rakyatnya. Mereka telah ditempatkan
sebagai pegawai pemerintah kolonial, sehingga tidak memiliki hak-hak istimewa
kebangsawanannya. Status dan hak-hak istimewanya justru diambil oleh Belanda.
Masyarakat Indonesia harus menghormati secara berlebihan kepada penguasa
kolonial.
Harus diakui dengan adanya dominasi
orang-orang Barat di Indonesia telah menanamkan nilai-nilai budaya yang umumnya
kurang sesuai dengan nilainilai budaya bangsa Indonesia. Bahkan perkembangan
budaya Barat yang cenderung dipaksakan juga telah menggeser nilai-nilai budaya
keindonesiaan. Semangat persatuan, hidup dalam suasana kekerabatan, nilai-nilai
gotong royong, nilai-nilai kesantunan, unggah-ungguh atau budi pekerti luhur
yang dikembangkan di lingkungan kraton yang juga ditiru oleh masyarakat mulai
bergeser. Bahkan yang menyedihkan dengan alasan modernisasi, para penguasa
Barat tidak mau tahu tentang tradisi atau atau norma-norma, termasuk nilai
halal dan haram dalam Islam, misalnya dengan budaya minumminuman keras (menjadi
mabuk-mabukan), berangkat dari dance kemudian mengarah kepada pergaulan
laki-laki dan perempuan yang cenderung tanpa batas. Oleh karena itu, di
lingkungan masyarakat beragama Islam, kaum kolonial yang menjajah Indonesia
dikatakan sebagai orang-orang kafir. Kedatangan dan dominasi bangsa-bangsa
Barat juga telah membawa pengaruh semakin intensifnya perkembangan agama
Kristen. Hal ini tentu sejenak menimbulkan culture shock di kalangan masyarakat
muslim di Indonesia. Namun dalam perkembangannya mampu beradaptasi sehingga
menambah khasanah keragaman di Indonesia.
Kemudian pada zaman pemerintahan Raffles,
perkembangan ilmu pengetahuan, sejarah dan budaya, khususnya di Jawa,
mendapatkan perhatian khusus. Melalui bukunya yang berjudul History of Java,
buku tersebut memuat berbagai aspek sosial dan budaya di Pulau Jawa. Ada juga
buku karya William Marsden yang berjudul History of Sumatera. Pemerhati budaya
Nusantara ternyata cukup banyak selain Raffles dan William Marsden terdapat
pula menteri pemerintahan Batavia, yakni Crawfurd. Ia menulis buku History of the
East Indian Arcipelago dalam tiga jilid. Buku itu sangat penuh rasa kemanusiaan
serta mambakar ketidakadilan yang diderita oleh penduduk. Pada akhir abad XIX,
Van Kol yang menjadi juru bicara sosialis Belanda melancarkan kritik terhadap
keadaan Hindia Belanda yang semakin merosot. Ia menyatakan selama satu abad
lebih pemerintah mengambil keuntungan dari penghasilan rakyat, tetapi tidak ada
satu persen pun yang dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat Hindia Belanda. Di
samping itu, Van Deventer pada tahun 1899, menulis dalam judul “Hutang
Kehormatan”. Dalam tulisan tersebut ia menganjurkan adanya politik balas budi
(politik etis) yang berisi pendidikan, irigasi, dan imigrasi/transmigrasi.
2.
Bidang
Pendidikan
Awal abad ke-20, politik kolonial memasuki
babak baru. Dimulailah era Politik Etis yang dipimpin oleh Menteri Jajahan
Alexander W.F. Idenburg yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda
(1909-1916). Ada tiga program Politik Etis, yaitu irigasi, edukasi, dan
trasmigrasi. Adanya Politik Etis membawa pengaruh besar terhadap perubahan arah
kebijakan politik negeri Belanda atas negeri jajahan. Pada era itu pula muncul
simbol baru yaitu “kemajuan”. Dunia mulai bergerak dan berbagai kehidupan pun
mulai mengalami perubahan. Pembangunan infrastruktur mulai diperhatikan dengan
adanya jalur kereta api Jawa-Madura. Di Batavia lambang kemajuan ditunjukkan
dengan adanya trem listrik yang mulai beroperasi pada awal masa itu. Dalam
bidang pertanian pemerintah kolonial memberikan perhatiannya pada bidang pemenuhan
kebutuhan pangan dengan membangun irigasi. Di samping itu, pemerintah juga
melakukan emigrasi sebagai tenaga kerja murah di perkebunan-perkebunan daerah
di Sumatera.
Hal yang sangat penting untuk mendukung
simbol kemajuan itu maka dalam era Politik Etis ini dikembangkan program
pendidikan. Pendidikan ini ternyata tidak hanya untuk orang-orang Belanda
tetapi juga diperuntukkan kepada kaum pribumi, tetapi dengan
persyaratan-persyaratan tertentu. Suasana dan simbol kemajuan melalui program
pendidikan ini juga didukung oleh adanya surat-surat R.A. Kartini kepada
sahabatnya Ny. R.M. Abendanon di Belanda, yang merupakan inspirasi bagi kaum
etis pada saat itu. Semangat era etis adalah kemajuan menuju modernitas.
Perluasan pendidikan gaya Barat adalah tanda resmi dari bentuk Politik Etis
itu. Pendidikan itu tidak saja menghasilkan tenaga kerja yang diperlukan oleh
negara, tetapi juga pada sektor swasta Belanda.
Dalam bidang pendidikan meskipun dampaknya
sangat kecil kepada penduduk pribumi, tetapi membawa dampak pada tumbuhnya
sekolahsekolah. Pada tahun 1900, tercatat sebanyak 169 Eurepese Lagree School
(ELS) di seluruh Hindia Belanda. Dari sekolah ini murid-murid dapat melanjutkan
pelajaran ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) ke Batavia atau
Hoogeree Burgelijk School (HBS). Di samping itu juga dikenal sekolah OSVIA
(sekolah calon pegawai) yang berjumlah enam buah. Untuk memperluas program
pendidikan maka keberadaan sekolah guru sangat diperlukan. Dikembangkan sekolah
guru. Sebenarnya Sekolah Guru atau Kweekkschool sudah dibuka pada tahun 1852 di
Solo. Berkembanglah pendidikan di Indonesia sejak jenjang pendidikan dasar
seperti Hollands Inlandse School (HIS) kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
(MULO). Untuk kelanjutan pendidikannya kemudian dibuka sekolah menengah yang
disebut Algemene Middelbare School (AMS), juga ada sekolah Hogere Burger School
(HBS). Kemudian khusus untuk kaum pribumi disediakan “Sekolah Kelas Satu” yang
murid-muridnya berasal dari anak-anak golongan atas yang nanti akan menjadi
pegawai, dan kemudian rakyat pada umumnya disediakan “Sekolah Kelas Dua” yang
di Jawa dikenal dengan “Sekolah Ongko Loro”.
Bagi para pemuda aktifis banyak yang
bersekolah di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang berpusat
di Batavia. Sekolah ini sering disebut dengan “Sekolah Dokter Jawa” Dari
sekolah ini lahir beberapa tokoh pergerakan kebangsaan. Memang harus diakui,
meskipun penduduk pribumi yang dapat bersekolah sangat sedikit, namun
keberadaan sekolah itu telah menumbuhkan kesadaran di kalangan pribumi akan
pentingnya pendidikan. Hal ini mempercepat proses modernisasi dan munculnya
kaum terpelajar yang akan membawa pada kesadaran nasionalisme.
Munculnya kaum terpelajar itu mendorong
munculnya surat kabar, seperti, Pewarta Priyayi yang dikelola oleh R.M
Tjokroadikoesoemo. Juga koran-koran lain, seperti Surat kabar De Preanger Bode
(1885) di Bandung, Deli Courant (1884) di Sumatera Timur, Makassarsche Courant
(1902) di Sulawesi, Bromartani (1855) di Surakarta, Bintang Hindia (1902) yang
dikelola oleh Abdul Rivai, membawa pencerahan di kalangan pribumi. Dari
berbagai informasi yang ada di surat kabar inilah lambat laun kesadaran akan
pentingnya persamaan, kemerdekaan terus menyebar ke kalangan terpelajar di
seluruh wilayah Hindia Belanda. Berkat informasi yang berkembang inilah kaum
terpelajar terus melakukan dialog dan berdebat tentang masa depan tanah
kelahirannya sehingga kesadaran pentingnya kemerdekaan terus berkembang dari
waktu ke waktu yang puncaknya adalah adanya kesadaran untuk menjadi satu tanah
air, satu bangsa, dan satu bahasa adalah Indonesia pada 28 Oktober 1928.




Komentar
Posting Komentar